Wait, I’ve several questions for you Moms out there. If you nodding yes
for every questions, it’s time for you to quit your job as a Mom. OR! Time to
flip the scenario!
Pernahkah Anda merasa lelah
menghadapi si buah hati? Pernahkah Anda merasa sangat lelah hingga akhirnya Anda
hanya bisa menghela nafas di hadapan si anak yang terus merengek, menangis,
atau bahkan setengah berteriak karena menginginkan sesuatu atau bahkan hanya
karena memaksa ingin menyentuh sesuatu?
Pernahkah Anda dan pasangan
terpaksa kembali ke rumah dan mengurungkan niat refreshing karena si buah hati yang mengamuk ingin pulang padahal Anda
telah sengaja membelikannya mainan terlebih dahulu dengan alasan “biar anteng”?
Pernahkah Anda berada di posisi
yang harus menuruti semua keinginan si anak karena takut dia memulai drama
tangisan tanpa akhir nya itu?
Atau pernahkah Anda merasa
bingung karena si anak terus merengek menunjuk satu benda agar Anda
mengambilkanya ketika Anda berkunjung ke rumah kawan, tetangga atau bahkan
saudara?
Well, Moms! You better watch out!
It might be your kids turn into the boss!
Ini cerita berdasarkan pengalaman
kawan yang tak hentinya menambah keriput di jidatnya. Oh no, you’re 25! But still, you only have a kid, not thousand! Kalimat
itulah yang tercetus dari mulut saya ketika melihat seorang kawan yang terus
menggerutu dengan kelakuan anaknya. Well,
“kelakuan” ini memiliki arti nakal, cengeng, dan menyebalkan (dari sudut pAndang
ibunya sendiri). Sepengelihatan saya, anak dari kawan saya ini memang hebat. She is so smarter than you, I guess!
Anak ini bisa menangis kapanpun dan dimanapun ketika sang Mommy berada di sampingnya. Bisa karena si Mom yang sedang berbicara dengan orang lain dan tidak melihat si
anak bermain, bisa karena si anak yang keukeuh
meminta barang yang dimiliki orang lain, bisa karena si anak yang meminta
semua boneka di rumah orang lain untuk diturunkan, dan bisa karena si ibu yang
melenyap meski hanya sebentar. Saya mengetahui apa yang dipikirkan oleh anak
ini, entah mengapa. Bukan karena dia licik, tapi memang karena dia pintar. Dia
mengetahui titik lemah sang Mommy.
Suatu ketika, saya dititipi si
anak ini karena ibunya hendak ke kamar kecil. Dengan sedikit rayuan handphone, si anak lengah dan tidak
menyadari ibunya telah pergi. Lalu dengan sengaja saya mengambil handphone yang saya berikan agar si anak
sadar bahwa dia telah sendirian. Well,
guess what!? She wasn’t cry at all! Dia hanya menengok kanan-kiri walau
memang agak sedikit terlihat panik. But
still she was brave. Apa yang saya pikirkan memang benar, anak ini pintar
bukan nakal atau cengeng. Ini bukan tentang dia menipu atau mebodohi si mommy tetapi memang dia tidak cengeng
sama sekali. Ketika saya ajak ke dalam rumah pun, dia tidak meminta apapun
walau banyak boneka yang biasanya dia upayakan agar ibunya mengambilkan. Benar
lagi. Lalu tak lama berselang, si mommy kembali.
Dan benar lagi, si anak langsung menangis sangat kencang layaknya disengat
lebah sebatalion.
Di lain waktu, saya berkunjung ke
rumah kawan saya itu. Saya lihat rumahnya sangat berantakan oleh mainan si
kecil. Ya, memang kawan saya ini agak sedikit pemalas. Setelah mendengar alasan
“Belum ada waktu buat beresin”, saya langsung mengajak si anak untuk
bersama-sama membereskan. Lalu Anda tahu apa? Si ibu duduk di samping saya dan
hanya melihat saya membereskan mainanya sambil berkata “Ayo tuh beresin mainan
kamu”, namun si anak yang tidak mau membantu hanya memeluk ibunya dan si ibu
berkata “Ih dasar kamu males deh”. Ya, hanya itu saja. Dan akhirnya yang
membereskan mainan itu hanya saya sendiri, mereka hanya melihat. Ya, hanya
melihat. How do you think? Who do you
think feasible to blame?
Potongan kisah anak dari kawan
saya itu memang menjadi pelajaran yang sangat berguna dan menarik untuk dibahas.
Anak adalah anugrah yang memiliki keunikannya masing-masing. Tapi ketika
keunikannya berubah menjadi sesuatu yang tidak terkontrol bahkan membuat
lingkungan sekitar menjadi bingung untuk menghadapinya, bisa jadi ini karena
orang tua nya sendiri yang bisa jadi telah melakukan kesalahan dalam pola asuh.
Apa yang saya tangkap dari pola
asuh kawan saya adalah dia terlalu mengikuti semua instruksi anak. Seperti
ketika anaknya menangis meminta sepatu yang jelas hanya 15 cm di hadapanya,
ibunya mengambilkan. Apapun yang anaknya pinta, dia selalu mengikutinya tanpa
sedikitpun mengatakan tidak. Bahkan ketika saya bertanya mengapa kamu seperti
itu, bukankah kamu sendiri yang mengatakan lelah? Lalu dia menjawab ada rasa
bangga ketika melihat anak tidak mau jauh dari orang tua, selalu meminta. Bisa
jadi ini karena anak pertama. Tapi yang saya pikirkan adalah apa yang terjadi
apabila sifat semacam ini terbawa hingga besar. Katakanlah sampai dia memasuki sekolah
dasar. Saya sendiri ada pengalaman di jaman sekolah dasar dulu, teman saya
menangis ingin dibelikan sepatu yang persis dengan milik saya. Lalu ibunya pun
membelikan. Semua barang yang saya punya pasti esoknya dia pun punya. It’s not good, mom.
Pola asuh yang selalu
mengedepankan anak pun harus dipikirkan matang-matang agar tidak menjadi bumerang
ke depannya. Orang tua tidak boleh sampai merasa dijajah oleh anak. Mari kita
kembalikan posisi. Bukan berarti anak itu salah, tetapi lebih diarahkan saja. Orang
tua tidak bisa membuat alasan tidak mau mengajarkan kedisiplinan hanya karena
alasan “belum waktunya”. Well, at least
you should try. Avoiding the rules won’t help you later. Apa yang akan Anda
lakukan apabila anak Anda sudah menjadi bossy?
Jadi, lebih baik latih sedini mungkin bukan? Mengajarkan disiplin itu sendiri
bukanlah karena kita terlalu tegas atau serius, anggaplah ini sebagai pagar.
Seperti rumah yang diberi pagar agar tak ada pencuri yang nekat melompatinya.
Perbedaanya hanyalah pagar orang tua tidak perlu diberi ujung yang tajam agar
tidak melukai anaknya. Pagar dibuat agar dia tidak melewati batas.
Anak yang bossy itu sendiri memiliki banyak resiko negatif di kehidupannya
sekarang maupun kelak. Berikut resiko yang harus Anda bahkan anak Anda hadapi:
1. Anak Anda tidak disukai orang
lain
Bukan berarti anak kita harus
disukai orang lain, tetapi minimal dia tidak dibenci. Bukankah menyedihkan
ketika anak Anda yang baru saja menghirup udara dunia itu sudah memiliki
haters? Terlebih lagi orang lain akan menganggap Anda orang tua yang tidak
becus.
2. Orang lain berharap Anda tidak
mengunjungi rumahnya lagi
Ingat tentang Anda yang tidak
bisa mengatakan tidak terhadap keinginan anak? Bahkan memberikan semua barang
orang lain yang dia minta? Bisa jadi Anda termasuk tamu yang menyebalkan.
Disamping orang lain tidak menyukai anak Anda, Anda pun bisa masuk daftar tamu
yang harus dihindari. Apa jadinya ketika kawan atau saudara pura-pura tidak ada
di rumah ketika Anda mengunjunginya? Masih merasa bangga dengan pola asuh Anda?
3. Melarang anaknya bergaul
dengan anak Anda
Bagaimana perasaan Anda apabila
anak Anda dianggap membawa pengaruh tidak baik untuk diajak bergaul? Perilaku bossy anak anda bisa jadi salah satunya
loh Mom. Orang tua lain tidak mau
kalau sampai anak-anak mereka mengikuti perilaku bossy anak anda.
Di samping resiko negatif dari
perilaku bossy seorang anak, hal apa
yang membuat anak memiliki karakter seperti ini? Apakah peranan orang tua yang
tidak tepat, lingkungan, ataukah karena bawaan lahir?
Kelanjutan ceritanya minggu depan
yah, thank you for reading and don’t
forget to comment on it below.